Produksi Kopi Cibeureum Kuningan Melonjak, Capai 70 Ton Sepanjang 2025

KUNINGAN – Produksi kopi robusta dari Desa Wisata Kopi Cibeureum, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, mengalami lonjakan signifikan sepanjang 2025. Total hasil panen biji kopi tercatat mencapai sekitar 70 ton, meningkat dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang berada di kisaran 40 hingga 50 ton.

Kepala Desa Cibeureum, Eka Rismaya, mengatakan panen kopi di wilayahnya dilakukan satu kali dalam setahun. Peningkatan produksi tersebut mencerminkan perkembangan sektor perkebunan kopi yang semakin menggeliat di desa tersebut.

“Pada 2025, Cibeureum memproduksi sekitar 70 ton biji kopi. Angka ini meningkat dibandingkan 2024 yang hanya 40 sampai 50 ton,” ujar Eka, Rabu (7/1/2026).

Eka menjelaskan, produksi kopi tersebut dihasilkan oleh sekitar 250 petani aktif yang tergabung dalam empat kelompok tani, yakni Sekar Manik, Ratu Asih, Ciremai Giri, dan Melati. Meski produksi meningkat, para petani masih menghadapi kendala, terutama pada proses pascapanen.

“Kami terkendala lahan penjemuran. Meskipun kualitas kopi bagus, keterbatasan lahan membuat proses pengeringan menjadi lebih lama. Biasanya 10 hari sudah kering, sekarang bisa sampai 15 hari,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi lembap saat pengeringan berpotensi memengaruhi kualitas biji kopi, termasuk perubahan warna menjadi menghitam jika tidak ditangani dengan baik.

Menurut Eka, lonjakan produksi kopi dipengaruhi oleh bertambahnya luas lahan tanam serta kondisi cuaca yang relatif mendukung. Saat ini, total luas tanam kopi di Desa Cibeureum mencapai sekitar 25 hektare, dengan penambahan lahan baru sekitar 8 hektare pada 2025.

“Cuaca kemarau basah justru cukup baik untuk pertumbuhan kopi dan minim serangan hama,” katanya.

Selain faktor cuaca, peningkatan produksi juga didorong oleh penerapan sistem tanam sambung. Teknik ini dilakukan dengan mengombinasikan batang bawah yang kuat dengan batang atas dari varietas unggul, sehingga mampu merangsang pertumbuhan tunas produktif.

“Sistem sambung pohon ini membuat hasil panen lebih melimpah dan kualitasnya lebih baik,” ujar Eka.

Kopi Cibeureum saat ini telah dipasarkan ke berbagai daerah, baik di tingkat lokal maupun nasional, seperti Kuningan, Cirebon, dan Bandung. Sebagian hasil produksi juga dialokasikan untuk pasar ekspor.

“Sekitar 20 persen dari total produksi kami pasarkan ke luar negeri, termasuk ke beberapa negara di Asia, Timur Tengah, dan Eropa,” ungkapnya.

Eka menilai komoditas kopi memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat Desa Cibeureum. Dengan harga kopi yang saat ini berada di angka Rp64.000 per kilogram, perputaran ekonomi dari sektor kopi diperkirakan mencapai miliaran rupiah dalam setahun.

“Harga sedang bagus dan sangat mendongkrak ekonomi desa. Harapannya ke depan produksi dan pemasaran kopi Cibeureum bisa terus meningkat,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *