BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan pernyataan pedas yang mencerminkan kesadarannya terhadap kondisi ekonomi di daerah yang dipimpinnya. Ia menyebut maraknya kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) sebagai bukti nyata bahwa ekonomi masyarakat, terutama di tingkat bawah, masih belum membaik. Pernyataan tersebut tidak hanya berbicara tentang masalah kriminalitas, tetapi juga mencerminkan kesenjangan sosial yang masih mencolok di Jawa Barat.
Dalam pernyataannya, Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa tingginya angka kejahatan curanmor mencerminkan kenyataan pahit bahwa masyarakat masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Ia menegaskan, “Jika masih ada maling motor, gubernurnya masih gagal,” seraya menambahkan bahwa para pelaku pencurian mengambil risiko besar hanya untuk mendapatkan uang yang tidak sebanding dengan bahaya yang mereka hadapi. Ancaman kekerasan dari massa dan hukuman yang berat menjadi taruhan bagi para pelaku kejahatan, yang menjual barang curian dengan harga sangat rendah.
Pernyataan Gubernur Dedi Mulyadi ini selaras dengan temuan dari Indikator Politik Indonesia, sebuah lembaga survei yang memberikan catatan kritis terhadap kinerja Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, terutama dalam sektor ekonomi. Meskipun survei menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Pemprov Jabar di sektor ekonomi mencapai 71 persen, beberapa masalah krusial, seperti pengentasan kemiskinan dan akses peningkatan modal, masih memerlukan perhatian serius. Hanya 51 persen responden yang merasa puas dengan pengentasan kemiskinan, sementara akses terhadap modal dan kualitas tenaga kerja masih di bawah angka 60 persen.
Survei tersebut memperlihatkan bahwa ketimpangan ekonomi yang mencolok masih menjadi persoalan utama di Jawa Barat. Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, menambahkan bahwa kebijakan pemotongan transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah menjadi salah satu faktor yang memperburuk situasi ekonomi. Ia mengingatkan Pemprov Jabar untuk lebih waspada dan menyesuaikan strategi ekonomi agar tren positif yang ada tidak menurun.
Menanggapi hal ini, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan menekankan pentingnya menjaga keamanan bersama dengan melibatkan masyarakat. Filosofi kearifan lokal ‘Jaga Lembur’ diperkenalkan untuk memperkuat kolaborasi antara aparat dan masyarakat dalam menjaga ketertiban dan mencegah kejahatan yang merugikan masyarakat, seperti pencurian kendaraan bermotor.
Dengan catatan kritis ini, Dedi Mulyadi dan Pemprov Jabar dihadapkan pada tantangan besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperbaiki sektor ekonomi yang masih belum optimal. Upaya pengentasan kemiskinan, peningkatan akses modal, dan pengelolaan tenaga kerja yang lebih berkualitas menjadi kunci penting untuk memulihkan ekonomi dan mengurangi ketimpangan sosial yang ada.


